Senin, 23 November 2015

si makhluk tak bertulang



Jaga lisan, yaps problem gue dari jaman ke jaman. Hffft-,-
Gue adalah orang yang ‘nyablak’ nggak bisa mendem sesuatu kalo emang gak suka sama satu hal. Gue juga kalo penasaran selalu langsung nanya ke orang nya, nggak peduli orang tersebut ‘tersinggung dan gue terlihat tidak sopan’. Menurut gue lebih baik langsung kita omongin aja secara langsung, itu lebih fair dari pada harus berkomentar tanpa sepengetahuannya tetapi beda kasus kalo kita bicara blak-blakan nya malah menambah keruh suasana, lebih baik diam.
Tapi itu semua jadi boomerang tersendiri untuk gue, mungkin beberapa orang yang udah mengerti sifat dan watak gue seperti ini bisa legowo dengan ucapan gue. Tapi, hidup kan berjalan ke depan, kita akan bersosialisasi dengan lebih banyak orang ke depan. Gue udah banyak di tegur dan dapet masalah, tapi gue kekeuh dengan prinsip ini. Sampai akhirnya gue ngepost ini, gue sadar gue harus berubah buat jaga lisan ini. Mungkin ucapan gue hanya bermaksud bercanda atau gimik aja. Tapi orang lain punya pandangan lain, dan ucapan gue bisa sangat mungkin menyakiti orang lain. Gue mau berhenti jadi orang yang asal nyablak dan ceplas-ceplos aja, pengen banget jadi perempuan yang diem nya itu bagai emas dan ucapan nya itu adalah sebuah manfaat bukan hinaan, ejekan dan keburukan lainnya.

Tapi bagaimana caranya?

Gue akhir-akhir ini selalu lebih banyak berfikir dan menahan kalo mau berbicara. Gue juga kalo lagi sholat memperbanyak dzikir, biar lisan gue lebih terlatih mengucapkan yang baik-baik dan yang palin susah adalah untuk sabar dan tidak terpancing buat ngomong yang nyakitin. Sejauh ini sudah agak berefek, pelan-pelan InSyaaAllah dengan niat dan mengucap basmallah gue pasti bisa. AAMIIN AAMIIN AAMIIN.

kalo kalian gimana? share dong kalo punya tips untuk jaga lisan, hehehe. see u on another post!

bukan penghargaan



Haiiiii, sorry gue baru ngepost lagi. Dikarenakan kesibukan mahasiswi semester 3 ini luar biasa banget padatnya hehehe. Btw, kali ini gue mau bahas soal kepadatan kuliah gue. Sebelumnya gue mau mengingatkan post ini dan blog gue inti nya adalah share pengaman dan cerita gue. Siapa tau kita satu pengalaman atau cerita, disini kalian bisa menemukan beberapa solusi. Bukan untuk menyindir, rasis atau sok tau. Inget ya, konten nya adalah sharing! Okey, here we go…

Jadi di kampus gue, seluruh mahasiswa-i semester 3 jurusan broadcasting penyiaran itu lagi di sibukkan sama kegiatan ‘Broadcasting Award’ yaitu sebuah ajang sesama kampus untuk bersaing secara sehat dalam membuat film pendek dengan durasi maksimal 5 menit untuk merebutkan piala umum bergilir.
Kebetulan kampus gue salah satu yang menonjol karena beberapa kali juara sesi (terdapat 6 sesi, setiap sesi terdapat 5 cabang kampus yang bersaing), dan dua kali juara umum. Otomatis gue dan teman-teman yang lain memiliki satu beban yang mengganggu. Tapi disisi lain, kita jadi punya banyak mentor yang sangat berpengalaman, mulai dari sutradara, editor sampai chief-chief lain.

Disini gue di percayakan (sebenernya mengajukan) menjadi assisten produser dan script writer. Awal mula semua berjalan dengan adem ayem, tapi ternyata kita mendapat masalah dalam hal naskah. Sampai akhirnya kita di bantu sama dosen yang sangat baik hati memberikan ide, dari situ gue mulai meracik dan menjamu kata-kata sampai lahirlah sebuah ide cerita dengan judul “Elective Abortion”. Ga usah nanya artinya apa, di google banyak!!! Pokoknya masalah kelas gue cuma ada di ide cerita dan naskah, sampai gue sendiri sebagai script writer merasa bersalah karena kinerja nya kurang efektif. Naskah pun sempat diganti dengan ide lain tapi karena banyak yang kurang setuju akhirnya balik lagi ke ide cerita awal. Tapi… masalah belum selesai sampai disana, naskah yang gue buat mengalami banyak revisi untuk mendapatkan cerita terbaik. Kelas gue sampe mengadakan simulasi kurang lebih 4 kali, hingga akhirnya sutradara beserta team bersama DOP bisa merevisi dan menghasilkan cerita terbaik untuk dijadikan film.

Sebelum semua itu selesai, kita juga mengalami masalah soal kekompakkan team. Tidak semua anggota team tertarik sama film, maka itu banyak kejadian alot terjadi. Perdebatan, emosi, egois, baper dan lain-lain telah kita lewati dengan cukup sulit  (menurut gue). Gue pun mengaku seperti itu, egois karena nggak mau berkomunikasi sama beberapa orang, emosi karena merasa selalu disalahkan, baper karena waktu itu keadaan nya lagi capek. Nah dari sini kalian sudah mulai bisa membaca, kalau inti dari ‘Broadcasting Award’ ini adalah bagaimana belajar jadi dewasa, menjadi seorang yang professional dalam menjalankan tanggung jawab, tidak egois, memanage waktu untuk menjaga kesehatan dan  tugas mata kuliah yang lain dan nggak ambekan alias baper alias bawa perasaan.
 
And finally, kita Alhamdulillah bisa melewati itu semua. Sampai H-3 semua sudah tercover dengan baik, tinggal rapat finalisasi dan eksekusi saja.
Apa yang gue dapet? Banyak banget. Gue belajar membuat desain produksi dengan detail dibagian keuangan karena uang yang dipakai adalah uang bersama harus maka se-efesien dan se-transparan mungkin. Gue juga belajar dengan baik dari dosen-dosen yang mebimbing gue dalam pembuatan naskah, walaupun naskah gue ujung nya banyak revisi. GAK USAH KETAWA LO!!! Gue juga belajar bagaimana harus menghargai orang lain, walaupun kita sangat beda sudut pandang pada akhirnya ke-egosian harus mengalah karena ini soal professional. Bukan hal mudah mengatur 40 orang menjadi satu team yang memiliki satu visi dan misi. Emosi, capek, kesel, menyerah, serba salah, semua rasa campur aduk ini semoga menghasilkan sesuatu yang baik, bukan piala atau “image” tapi sebuah pelajaran tentang proses menjadi dewasa dan mengetahui bakat masing-masing di bidang broadcasting.

Gue pribadi minta maaf karena selalu berkomentar pedas, menyinggung dan nggak enak banget di hati. Jujur gue emang masih enggak bisa jaga lisan ini, ditambah gue orang nya nggak bisa mendem kalo gue itu nggak suka sama sesuatu. Ditambah maaf banget karena kinerja sebagai script writer nggak efektif, I’ve done try my best. Gue dan temen-temen akan berangkat tanggal 27 November dan pulang 29 November. Doakan semoga semua nya berjalan lancer, dan setelah BA selesai nggak muncul masalah baru. AAMIIN YA RABB! Semangat…

Sabtu, 19 September 2015

ini tentang sebuah CITA... -cita



Ini tentang sebuah cita-cita, sama seperti anak lain gue pun punya segudang cita-cita yang pasti nya berubah dari kecil sampe udah gede. Seinget gue sih, gue pernah bercita-cita jadi guru (50% cita-cita anak kecil dari 100% yang sisa nya adalah jadi dokter), guru nya itu guru mengaji sama guru TK, lalu jadi bidan, yang paling sederhana sih cuma jadi ibu rumah tangga (naluri perempuan), lalu pindah haluan lagi jadi news anchor tapi berhubung gue cadel huruf R ya udah deh gue sekarang menetap dan punya keyakinan besar untuk menjadi seorang broadcaster handal dibalik sebuah program yang suskes. Sukses dalam artian punya tempat tersendiri di hati penonton dan punya nilai yang bermanfaat. Yaaa walaupun gue tau itu nggak semudah saat gue ketik post ini, tapi dengan sekuat hati, pikiran dan tenaga InsyaaAllah semua bisa terwujud. Aamiin.
Nah kalo itu mungkin visi nya, atau tujuan utama dan cara gue meraihnya dengan misi. Walaupun misi yang gue rancang ternyata sangat nggak mudah. Sejak gue SMP, gue berkeyakinan untuk melanjutkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) supaya setelah itu bisa langsung kerja dan nabung buat kuliah. Tapi apa daya jadi pengangguran itu sangat nggak enak dan jadi beban tersendiri. Gue sih sempet kerja di sebuah resto fast food gitu, disana gue sebagai order taker yang berusaha belajar setiap harinya. Tapi sayang para senior seperti kurang membantu dan gue nya nggak terlalu cepat beradaptasi menghasilkan gue resign di bulan kedua. Setelah kembali jadi pengangguran, kedua orang tua gue menyarankan untuk meneruskan kuliah, tapi lagi-lagi semua nya tak sesuai harapan. Di awal lulus SMK mereka menyanggupi untuk membiayai gue kuliah di sebuah universitas swasta dengan jurusan broadcasting, tapi apa daya ternyata biaya nya terlalu jauh untuk diraih. Sampai akhirnya rezeki gue kuliah di akademi swasta yang bisa dibilang sangat terkenal tapi terkenal juga kualitas pendidikan nya kurang baik. Dengan berat hati dan sedikit keyakinan, gue jalanin kuliah nya. Suka duka semua udah gue lewati, sampai akhirnya sekarang gue udah semester tiga.
Ini semua bikin gue berpikir… perjuangan gue belum seberapa dibanding mereka orang tua gue yang banting tulang mengeluarkan tenaga dan uang sampai saat ini. Ditambah sama rata-rata semua temen SMK gue udah diambang batas aman karena punya pekerjaan, udah merasakan hasil keringan sendiri setiap bulan, bisa kasih orang tua uang dan sebuah kebanggan juga bisa nabung dengan uang sendiri untuk masa depan. Berbeda sama gue yang sekarang masih sangat bergantung dengan minta. Tapi itu semua membuat gue semakin semangat, buat fokus lulus kuliah dengan baik dan kerja keras biar orang tua gue bangga, bahagia dan sejahtera di masa tua nya nanti. Walaupun terkadang keraguan muncul karena dunia yang gue pelajari ini sangat sulit dan banyak banget pesaing, tapi Allah SWT. pasti udah menyediakan rezeki-Nya untuk gue. Karena tidak ada yang sia-sia selama semuanya dilakukan dengan hati ikhlas dan harapan yang selalu menjadi doa setiap hari nya. Betul? *ala Aa Gym*

semut di sebrang laut nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak.



Haiii, gimana nih kabar kalian? Post gue kali ini kisah nyata dan menurut gue emang salah satu yang kadang tidak di sadari. Hmm first gue disini memposisikan sebagai “manusia biasa” yang nggak munafik tapi tetep berpegang teguh sama agama yang gue anut. Btw, kenapa judul nya pepatah “semut di sebrang laut nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak” itu semua karena gue terinspirasi sesuatu.
Suatu hari gue tersadar betapa bodoh nya gue, waktu itu bokap lagi dinas keluar kota dan diperkirakan sampe rumah jam 10 malam, saat itu bertepatan juga dengan dia yang masih di jalan sehabis ketemuan sama gue. Awalnya gue nggak sadar betapa hal penting ini udah gue abaikan untuk satu setengah tahun, tapi ini semua bikin gue kayak nabok sama diri sendiri.

Waktu itu mama terlihat khawatir dengan gontai nyamperin gue ke kamar dan nyodorin handphone nya buat nelpon bokap udah sampe mana, dalem hati gue bilang ‘ya udah sih ma, papa kan udah dewasa nanti juga sampe’ tapi karena gue takut di kutuk akhirnya gue harus nurut aja. PADAHAL, disisi lain gue malah khawatir banget sama dia yang belum ada kabar udah sampe rumah nya yang nun jauh di sana atau belum (re; suatu kota di luar DKI Jakarta dan bukan bekasi!). hmm, udah tau belum apa keterkaitan nya? Hahaha. Oke lanjut, sampai saat itu gue belum sadar sama kesalahan besar itu dan masih aja menatap nanar layar kaca smartphone dengan harapan ada bbm masuk ‘aku udah sampe’.

Sampai akhirnya, sekitar jam 10 malem. Bokap sampe rumah dengan selamat, gue melihat beliau lusuh... masih rapi sih tapi raut muka nya terlihat lelah sambil bawa koper besar karena seminggu di luar kota dan sebelum itu dia udah sampe rumah nya. Saat ini lah gue merasa sangat salah, gue jauh lebih meng-khawatirkan dia yang masih pacar gue sedangkan “papa” sendiri, yang udah kerja keras sampe ke luar kota banting tulang demi membiayai gue dari mulai masih di rahim sampe detik ini. Gue ngerasa bersalah, berdosa dan bodoh banget.  Gue lebih mengkhawatirkan seseorang yang bukan seharusnya… gue juga sadar ternyata itu mungkin masuk salah satu alasan Islam melarang pacaran, karena akan timbul dosa yang sebenernya masalah kecil tapi justru itu adalah point nya.

Banyak juga sih contoh lain tapi gue terlalu males buat menjabarkan hahaha. Intinya buat kalian yang mungkin sama kayak gue, mulai sekarang coba sadar deh. Prioritaskan lagi hidup kalian untuk keluarga sendiri, karena waktu yang terbuang itu nggak bisa berputar lagi dan selagi masih di kasih izin sama Allah SWT. buat bareng-bareng sama keluarga kalian.
Cukup itu aja sih yang mau gue ceritakan, dan sekali lagi gue memposisikan diri sebagai manusia biasa. Nggak berusaha jadi ustadzah atau sholeha, cuma share pengalam yang menurut gue menarik dan bermanfaat hehehe. by the way agak kurang nyambung ya pepatah sama cerita, tapi gue suka hahaha. Cheers! Terima kasih sudah membaca.

Sabtu, 08 Agustus 2015

fans pensiun

Ternyata bukan cuma preman yang akan pensiun kayak kang bahar di sinteron preman pensiun, fans fanatik kayak gue pun merasakannya...

Sejak lulus SMK gue mulai fokus sama kehidupan nyata, cari kerja sampe kuliah, dan itu semua menyita waktu banget. Sampe akhirnya gue inget satu hal waktu on twitter, serasa banyak yang hilang disana… ternyata sekarang emang masa nya itu udah berubah, mayoritas temen vidies yang gue kenal melalui twitter udah jarang nongol dan aktif soal ka vid dan vidies. Yang gue tau sih ya emang sama kayak gue, waktu luang yang dulu masih bisa dipake untuk have fun sama idola udah nggak ada lagi. Bahkan ada yang memang mengaku bener-bener pensiun dan dia lumayan deket sama gue. Awalnya sih gue agak menyalahkan keadaan, karena gue kangen suasana excited dan party di twitter kalo ada moment tertentu, dan kangen kumpul bareng buat nonton perform nya ka vid sambil nyanyi-nyanyi narsis dan teriak-teriak karena terlalu seneng. Mereka yang dulu udah kayak keluarga gue di twitter udah sama-sama fokus ke kehidupan yang real. Kenapa gue bilang keluarga? karena sepengetahuan gue, vidies ini luar biasa banget. kita deket emang karena satu idola, tapi ada beberapa yang sampe kayak sahabat yang bahas masalah kehidupan. Gue sendiri juga merasakannya, kita berempat, ka cicy, ka rizka, nuri dan gue. Dulu kita sering banget bikin timeline twitter rusuh, karena saling ngebully sampe ngegossip soal ka vid. Sampe setiap hari kerjaan gue tuh cuma mantengin laptop buat online twitter, berteman di dunia maya sama vidies seluruh Indonesia, cari informasi soal ka vid, koleksi foto ka vid sampe hampir seribu, nonton dimanapun ka vid perform dan nggak pernah ketinggalan jadwal ka vid tampil di tv. Itu gila banget, suka duka udah gue rasain jadi vidies. Dari jaman gue masih jadi orang asing sampe gue diterima dan kenal baik sama vidies.

But, mungkin emang bukan masa nya lagi. Admin resmi vidies yang emang dari awal karir ka vid juga udah pensiun, mereka yang biasa buat event tahunan untuk ka vid dan vidies udah re-generasi. Gue emang merasakan udah nggak excited banget sama ka vid, mungkin rasa mengidolakan emang masih ada tapi untuk jadi fans fanatik sih… udah kadarluasa. Tapi gue nggak harus sedih atau khawatir lebay gini, karena ternyata masih banyak banget vidies yang belum gue kenal, admin vidies yang dulu temen seperjuangan juga udah siap memulai event baru lagi. Jadi, kalian vidies dimana pun berada bersukurlah pernah merasakan apa yang gue rasakan dan kalian yang masih excited dijaga terus kekompakan nya dan terus support kak vid ya! Cheers #SalamVidies #ThePowerofVidies