Nggak nyangka banget sama tugas
semester 5 yang notabene baru diterapkan di tahun ajaran gue. Jadi semester 5
ini BSI kasih kontrak kuliah terpadu gitu, menyatukan mata kuliah produksi
televisi studio, produksi televisi drama dan animasi 3 dimensi dengan tugas
MEMBUAT STASIUN TV DENGAN 13 PROGRAM. BOOM!!!
Awalnya gue pribadi sih ngerasa
excited banget, gue udah merencanakan untuk memilih program non drama karena
waktu itu kita disuruh memilih produksi sesuai passion. TAPI…
Kayaknya ada miss komunikasi
antara pihak kampus dan kita mahasiswa-mahasiswi, harusnya kita di jelaskan
dulu bagaimana prosuder nya setelah memilih program sesuai passion. Namun awalnya
kita malah disuruh memilih, kepala stasiun, wakil, sekretaris, beserta manager
dari divisi drama, non drama dan berita. Menurut gue sih baiknya dijelaskan
dulu gimana prosedur nya perdivisi, dan dijelaskan juga tugas-tugas dari
jajaran kepala stasiun sampai manager. Kalo jadi produser dan chief-chief lain
nya mungkin sih kita udah biasa, tapi jadi kepala stasiun, wakil kepala
stasiun, sekretaris dan manager itu kan hal yang baru untuk kita.
Andaikan aja dijelaskan dulu gue
nggak mungkin mau ditunjuk sebagai manager, karena walaupun kerjaan nya cuma
mengontrol produser dari beberapa program tapi ketika ada masalah otomatis
harus jadi problem solve dan harus jadi jembatan antara crew dan top management
dan gue bukan tipikal pemimpin, karena gue emang emosian, panik dan sering
bertindak tanpa berpikir.
Kemudian kita disuruh memilih
program yang kita mau. Menurut gue ini salah, karena mungkin sebagian orang
memang mengikuti passion nya, tapi banyak juga karena mereka kenal “manager”
nya, patungan uang produksi (disalah satu divisi) yang sedikit, cuma ikutan
temen, dan terpaksa karena kuota perdivisi terbatas (SUMPAH INI GUE).
Oke balik lagi ke masalah
kepemimpinan stasiun, nah ternyata dari setiap kelas cabang BSI (kebetulan
cengkareng dipasangkan dengan ciledug) harus menyalonkan satu orang kepala
stasiu. Waktu itu ada 5 kelas, otomatis ada 5 orang calon kepala stasiun.
Masalah pencalonan ini juga nggak di informasikan, mungkin akan lebih baik kalo
kepala stasiun dipilih dulu sama anggota perkelas supaya lahir yang terbaik diantara
yang baik, bukan memilih karena nggak tau mana yang terbaik, kenal atau pun
asal ikutan temen aja. Gue sih jujur karena ikutan temen, padahal ada pilihan
golput. Cuma yaaa kan karena nggak tau aja ke depan nya gimana. HAHAHA.
Jadi setelah memilih jajaran atas
stasiun televisi dan jadi crew salah satu divisi, kita diperkenalkan sama team
teaching yang akan membimbing dan langsung dikasih deadline selanjutnya.
Karena gue tergiur sama “jadi
manager kayaknya seru nih” seru dalam artian gampang, gue pun terlibat
membangun dari nol stasiun tv ini. Pertama masalah budget, ternyata semua biaya
pra-produksi-pasca semua nya dari kita untuk kita. Jadi kita harus
mempertimbangkan berapa iuran perorang dan aliran dana nya. Kemudian nama,
logo, visi dan misi stasiun tv tersebut. Kita skip dulu masalah ini…
Selanjutnya, gue yang niat nggak
niat jadi manager bertugas mengatur team per program. Dalam divisi produksi
berita, terdapat program buletin berita, dokumenter dan investigasi. Dan ternyata
memimpin 26 orang itu bukan hal yang mudah, apalagi sebagian dari mereka belum
gue kenal. Akhirnya gue membagi dengan adil, setiap program terdiri dari cabang
cengkareng dan ciledug. Yaaa walaupun akhirnya program investigasi team nya
dari cengkareng semua. Dan memilih produser dari ketiga program tersebut.
Laluuu, datanglah kericuhan. Lagi-lagi
ada kesalahan komunikasi, kita mengira uang iuran untuk budget perstasiun tv
itu dibebaskan, mau pukul rata semua divisi atau option lainnya. kita udah
ngebahas sampe haus, siang & malam ternyata eh ternyata maksudnya
dibebaskan adalah nominal nya, tapi sistem nya tetep semua divisi sama rata
iuran nya. Ini lah awal kehancuran nya eh, satu sama lain saling mengeluarkan
pendapat yang menguntungkan divisi, merasa di anak tirikan, fitnah, gibah, adu
domba terdengar dimana-mana. Sungguh, kiamat sudah dekat. Loh oke lupakan.
Sampeee akhirnya, the one and
only Bu Anisti kasih pencerahan. Tugas ini tujuan nya adalah mengajarkan kita
untuk mengerti mangemant stasiun tv, so kita harus bekerja seprofesional
mungkin layaknya karyawan sebuah stasiun televisi komersil. TAPI, di sisi
sebagai mahasiswa-i kita bertindak juga sebagai pemegang saham yang mengalirkan,
mengelola dan mengawasi keuangan. Transparasi sangat dinjunjung. Nggak ada yang
nama nya “ih nggak adil, gue iuran sama tapi program gue budget nya sedikit”,
loh ini bukan lagi pembagian uang, dengan santai beliau bilang “kalo emang
nggak bisa ikutin ketetapan, silahkan keluar dari stasiun tv ini dan buat
sendiri 13 program” WAHAHAHA LUAR BIASA SEKALI OUR MOM OF BROADCAST BSI~~~
Sampai akhirnya, setelah dirundingkan
bersama produser yang punya wewenang menghitung kebutuhan budget preprogram
lahir nominal iuran 520K perorang. kericuhan kembali terjadi. kontra pasti.
Ditambah gue yang panikan dan galak ini salah jalan, gue yang emang punya
karakter tegas dan galak menerapkan bahwa siapapun yang butuh penjelasan dan
nggak setuju ya silahkan ungkapkan jangan malah bikin suasana makin panas
dengan celoteh-celoteh “lucu” tapi makna nya “kita nggak sanggup”.
Team gue nurut, mereka mulai
kebal dan males sama ocehan gue. Jadi ikutin aja apa yang gue informasikan,
tapi ternyata ini boomerang bagi gue. Lambat laun gue ngerti, mereka nggak suka
sama gaya kepempimpinan gue yang katanya “diktator” alias gue selalu memaksakan
kehendak gue.
Hemmm. Sebenernya sih, niat gue
biar semua proses pra-produksi-paska mereka lancar. Gue pengen nya memastikan
betul semua nya sesuai ketetapan yang udah disepakati. Tapi karena kita semua
statusnya mahasiswa-i yang belum punya banyak pengalaman, apalagi gue emang
nggak punya bakat di bagian teknis gitu. Yaaa omongan gue kadang cuma sekedar
bahan pertimbangan lalu diabaikan, komunikasi gue dengan team sangat buruk.
Tapi lambat laun gue mengerti,
bahwa semua yang kita inginkan ga harus terjadi, semua orang punya sistematis
cara bekerja dan berpikir yang berbeda. Gue yang galak dan tegas tapi panikan
emang nggak cocok sama team gue yang hampir 100% cara kerja nya itu santai, dan
cara berpikirnya adalah “slow but sure”. Berbanding terbalik bukan?
Gue juga belajar memahami
karakter orang, sebagai pemimpin kita diharuskan sabar, perhatikan, pikir baru
bertindak.
Lewat beberapa workshop, curhat
sana-sini, baca ini itu, gue akhirnya sadar. Tugas manager cuma mengawasi dan
mengontrol, sesekali lebih baik membantu TAPI TANGGUNG JAWABNYA BESAR. Dan yang
terpenting lagi adalah, jadi harus siap menerima kritik karena apapun keputusan
kita kontra itu pasti, mental harus lebih kuat juga.
Lagi pula, INI CUMA TUGAS.
Kebiasaan gue dari SMP, menganggap bahwa kalo tugas sempurna, nilai bagus, guru
senang maka masa depan cerah. Tapi ternyata, lewat praktek langsung dan
kesalahan yang dialami kita bisa memahami lebih banyak. KESALAHAN ADALAH GURU
TERBAIK, nggak ada proses belajar tanpa salah. Kita semua paham itu.
Permasalahan internal divisi gue
kelar. Masalah di jajaran atas muncul.
Stasiun tv ini dibangun oleh dua
kepribadian yang bertolak belakang.
Masalah logo, nama dan visi misi
stasiun tv yang tidak dirundingkan bersama adalah kesalahan pertama, tapi
Alhamdulillah sih ini nggak ada protes, kemudian sistem kerja yang tidak jelas.
Seharusnya kami menjadwalkan rapat direksi setiap minggu, manager melaporkan
progress setiap program, kepsta wakepsta & sekretaris mengontrol dan
memberikan solusi. Tapi kita tidak melakukan itu, heeem sempet sih dilakukan
tapi nggak berlangsung lama. Intinya stasiun tv ini dibangun oleh banyak
pemikiran, nggak satu visi misi, banyak campur tangan dan kurang bimbingan. Dan
ini berlangsung sampai gue nulis blog
ini.
Gue juga nggak menjalankan tugas
gue dengan baik, ketika mencoba menjalin komunikasi dengan team gue sulit
diterima ya udah deh pasrah aja. Ketika mencoba membangun team work di jajaran
atas, semua nya udah sibuk sama tugas masing-masing. Selesai deh~~~ HAHAHA
Berjalan nya waktu, banyak
kejanggalan yang gue rasakan. Mulai dari jajaran atas yang makin nggak kompak,
team gue yang semakin sulit di kontrol… sungguh berat hidup ini. Halah wkwk
Tapi, deadline makin deket. Gue
berusaha mengkoordinir dan membantu sedikit demi sedikit. DISINILAH KEAJAIBAN
DATANG. Progress program team gue berjalan sesuai harapan, jajaran atas pun
membuktikan kinerja nya. DAN GUE MENEMUKAN MEREKA…
Mereka yang ternyata dengan
senang hati mau mendengarkan saran gue, membaur bersama memecahkan masalah, dan
membuktikan kinerja dengan sangat baik. Gue bersyukur punya mereka…
Beberapa hari lagi kami akan
presentasi program tv kami, nanti di januari ada simulasi penayangan di BSI TV
streaming. Doakan ya semoga semua nya makin lancar, semua hambatan bisa di
atasi dengan baik dan semua nya bangga sama hasil karya nya. Aamiin.
BY THE WAY, this just my opinion.
Im not judge other people. Just share what im feel, thanks my reader.