Senin, 12 Desember 2016

semester 5



Nggak nyangka banget sama tugas semester 5 yang notabene baru diterapkan di tahun ajaran gue. Jadi semester 5 ini BSI kasih kontrak kuliah terpadu gitu, menyatukan mata kuliah produksi televisi studio, produksi televisi drama dan animasi 3 dimensi dengan tugas MEMBUAT STASIUN TV DENGAN 13 PROGRAM. BOOM!!!

Awalnya gue pribadi sih ngerasa excited banget, gue udah merencanakan untuk memilih program non drama karena waktu itu kita disuruh memilih produksi sesuai passion. TAPI…
Kayaknya ada miss komunikasi antara pihak kampus dan kita mahasiswa-mahasiswi, harusnya kita di jelaskan dulu bagaimana prosuder nya setelah memilih program sesuai passion. Namun awalnya kita malah disuruh memilih, kepala stasiun, wakil, sekretaris, beserta manager dari divisi drama, non drama dan berita. Menurut gue sih baiknya dijelaskan dulu gimana prosedur nya perdivisi, dan dijelaskan juga tugas-tugas dari jajaran kepala stasiun sampai manager. Kalo jadi produser dan chief-chief lain nya mungkin sih kita udah biasa, tapi jadi kepala stasiun, wakil kepala stasiun, sekretaris dan manager itu kan hal yang baru untuk kita.
Andaikan aja dijelaskan dulu gue nggak mungkin mau ditunjuk sebagai manager, karena walaupun kerjaan nya cuma mengontrol produser dari beberapa program tapi ketika ada masalah otomatis harus jadi problem solve dan harus jadi jembatan antara crew dan top management dan gue bukan tipikal pemimpin, karena gue emang emosian, panik dan sering bertindak tanpa berpikir.

Kemudian kita disuruh memilih program yang kita mau. Menurut gue ini salah, karena mungkin sebagian orang memang mengikuti passion nya, tapi banyak juga karena mereka kenal “manager” nya, patungan uang produksi (disalah satu divisi) yang sedikit, cuma ikutan temen, dan terpaksa karena kuota perdivisi terbatas (SUMPAH INI GUE).

Oke balik lagi ke masalah kepemimpinan stasiun, nah ternyata dari setiap kelas cabang BSI (kebetulan cengkareng dipasangkan dengan ciledug) harus menyalonkan satu orang kepala stasiu. Waktu itu ada 5 kelas, otomatis ada 5 orang calon kepala stasiun. Masalah pencalonan ini juga nggak di informasikan, mungkin akan lebih baik kalo kepala stasiun dipilih dulu sama anggota perkelas supaya lahir yang terbaik diantara yang baik, bukan memilih karena nggak tau mana yang terbaik, kenal atau pun asal ikutan temen aja. Gue sih jujur karena ikutan temen, padahal ada pilihan golput. Cuma yaaa kan karena nggak tau aja ke depan nya gimana. HAHAHA.

Jadi setelah memilih jajaran atas stasiun televisi dan jadi crew salah satu divisi, kita diperkenalkan sama team teaching yang akan membimbing dan langsung dikasih deadline selanjutnya.
Karena gue tergiur sama “jadi manager kayaknya seru nih” seru dalam artian gampang, gue pun terlibat membangun dari nol stasiun tv ini. Pertama masalah budget, ternyata semua biaya pra-produksi-pasca semua nya dari kita untuk kita. Jadi kita harus mempertimbangkan berapa iuran perorang dan aliran dana nya. Kemudian nama, logo, visi dan misi stasiun tv tersebut. Kita skip dulu masalah ini…

Selanjutnya, gue yang niat nggak niat jadi manager bertugas mengatur team per program. Dalam divisi produksi berita, terdapat program buletin berita, dokumenter dan investigasi. Dan ternyata memimpin 26 orang itu bukan hal yang mudah, apalagi sebagian dari mereka belum gue kenal. Akhirnya gue membagi dengan adil, setiap program terdiri dari cabang cengkareng dan ciledug. Yaaa walaupun akhirnya program investigasi team nya dari cengkareng semua. Dan memilih produser dari ketiga program tersebut.

Laluuu, datanglah kericuhan. Lagi-lagi ada kesalahan komunikasi, kita mengira uang iuran untuk budget perstasiun tv itu dibebaskan, mau pukul rata semua divisi atau option lainnya. kita udah ngebahas sampe haus, siang & malam ternyata eh ternyata maksudnya dibebaskan adalah nominal nya, tapi sistem nya tetep semua divisi sama rata iuran nya. Ini lah awal kehancuran nya eh, satu sama lain saling mengeluarkan pendapat yang menguntungkan divisi, merasa di anak tirikan, fitnah, gibah, adu domba terdengar dimana-mana. Sungguh, kiamat sudah dekat. Loh oke lupakan.

Sampeee akhirnya, the one and only Bu Anisti kasih pencerahan. Tugas ini tujuan nya adalah mengajarkan kita untuk mengerti mangemant stasiun tv, so kita harus bekerja seprofesional mungkin layaknya karyawan sebuah stasiun televisi komersil. TAPI, di sisi sebagai mahasiswa-i kita bertindak juga sebagai pemegang saham yang mengalirkan, mengelola dan mengawasi keuangan. Transparasi sangat dinjunjung. Nggak ada yang nama nya “ih nggak adil, gue iuran sama tapi program gue budget nya sedikit”, loh ini bukan lagi pembagian uang, dengan santai beliau bilang “kalo emang nggak bisa ikutin ketetapan, silahkan keluar dari stasiun tv ini dan buat sendiri 13 program” WAHAHAHA LUAR BIASA SEKALI OUR MOM OF BROADCAST BSI~~~

Sampai akhirnya, setelah dirundingkan bersama produser yang punya wewenang menghitung kebutuhan budget preprogram lahir nominal iuran 520K perorang. kericuhan kembali terjadi. kontra pasti. Ditambah gue yang panikan dan galak ini salah jalan, gue yang emang punya karakter tegas dan galak menerapkan bahwa siapapun yang butuh penjelasan dan nggak setuju ya silahkan ungkapkan jangan malah bikin suasana makin panas dengan celoteh-celoteh “lucu” tapi makna nya “kita nggak sanggup”.

Team gue nurut, mereka mulai kebal dan males sama ocehan gue. Jadi ikutin aja apa yang gue informasikan, tapi ternyata ini boomerang bagi gue. Lambat laun gue ngerti, mereka nggak suka sama gaya kepempimpinan gue yang katanya “diktator” alias gue selalu memaksakan kehendak gue.
Hemmm. Sebenernya sih, niat gue biar semua proses pra-produksi-paska mereka lancar. Gue pengen nya memastikan betul semua nya sesuai ketetapan yang udah disepakati. Tapi karena kita semua statusnya mahasiswa-i yang belum punya banyak pengalaman, apalagi gue emang nggak punya bakat di bagian teknis gitu. Yaaa omongan gue kadang cuma sekedar bahan pertimbangan lalu diabaikan, komunikasi gue dengan team sangat buruk.

Tapi lambat laun gue mengerti, bahwa semua yang kita inginkan ga harus terjadi, semua orang punya sistematis cara bekerja dan berpikir yang berbeda. Gue yang galak dan tegas tapi panikan emang nggak cocok sama team gue yang hampir 100% cara kerja nya itu santai, dan cara berpikirnya adalah “slow but sure”. Berbanding terbalik bukan?
Gue juga belajar memahami karakter orang, sebagai pemimpin kita diharuskan sabar, perhatikan, pikir baru bertindak.
Lewat beberapa workshop, curhat sana-sini, baca ini itu, gue akhirnya sadar. Tugas manager cuma mengawasi dan mengontrol, sesekali lebih baik membantu TAPI TANGGUNG JAWABNYA BESAR. Dan yang terpenting lagi adalah, jadi harus siap menerima kritik karena apapun keputusan kita kontra itu pasti, mental harus lebih kuat juga.

Lagi pula, INI CUMA TUGAS. Kebiasaan gue dari SMP, menganggap bahwa kalo tugas sempurna, nilai bagus, guru senang maka masa depan cerah. Tapi ternyata, lewat praktek langsung dan kesalahan yang dialami kita bisa memahami lebih banyak. KESALAHAN ADALAH GURU TERBAIK, nggak ada proses belajar tanpa salah. Kita semua paham itu.

Permasalahan internal divisi gue kelar. Masalah di jajaran atas muncul.
Stasiun tv ini dibangun oleh dua kepribadian yang bertolak belakang.
Masalah logo, nama dan visi misi stasiun tv yang tidak dirundingkan bersama adalah kesalahan pertama, tapi Alhamdulillah sih ini nggak ada protes, kemudian sistem kerja yang tidak jelas. Seharusnya kami menjadwalkan rapat direksi setiap minggu, manager melaporkan progress setiap program, kepsta wakepsta & sekretaris mengontrol dan memberikan solusi. Tapi kita tidak melakukan itu, heeem sempet sih dilakukan tapi nggak berlangsung lama. Intinya stasiun tv ini dibangun oleh banyak pemikiran, nggak satu visi misi, banyak campur tangan dan kurang bimbingan. Dan ini  berlangsung sampai gue nulis blog ini.

Gue juga nggak menjalankan tugas gue dengan baik, ketika mencoba menjalin komunikasi dengan team gue sulit diterima ya udah deh pasrah aja. Ketika mencoba membangun team work di jajaran atas, semua nya udah sibuk sama tugas masing-masing. Selesai deh~~~ HAHAHA
Berjalan nya waktu, banyak kejanggalan yang gue rasakan. Mulai dari jajaran atas yang makin nggak kompak, team gue yang semakin sulit di kontrol… sungguh berat hidup ini. Halah wkwk

Tapi, deadline makin deket. Gue berusaha mengkoordinir dan membantu sedikit demi sedikit. DISINILAH KEAJAIBAN DATANG. Progress program team gue berjalan sesuai harapan, jajaran atas pun membuktikan kinerja nya. DAN GUE MENEMUKAN MEREKA…
Mereka yang ternyata dengan senang hati mau mendengarkan saran gue, membaur bersama memecahkan masalah, dan membuktikan kinerja dengan sangat baik. Gue bersyukur punya mereka…

Beberapa hari lagi kami akan presentasi program tv kami, nanti di januari ada simulasi penayangan di BSI TV streaming. Doakan ya semoga semua nya makin lancar, semua hambatan bisa di atasi dengan baik dan semua nya bangga sama hasil karya nya. Aamiin.
BY THE WAY, this just my opinion. Im not judge other people. Just share what im feel, thanks my reader.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar